HILIRISASI NIKEL, SOKONG RI JADI 'RAJA' BATERAI LISTRIK DUNIA
HILIRISASI NIKEL,
SOKONG RI JADI 'RAJA' BATERAI LISTRIK DUNIA
Indonesia sukses menjalankan hilirisasi
nikel. Dalam sekejap, pendapatan negara dari ekspor nikel yang bernilai tambah
itu melejit sampai 2.300% atau menjadi Rp 360 triliun dari yang sebelumnya di
tahun 2019 hanya Rp 15 triliun.
"Ini sekarang sudah melompat di
angka Rp 360 triliun dari Rp 15 triliun. Itu baru satu komoditas, satu
barang," mengutip ucapan Presiden RI Joko Widodo, dalam acara BNI Investor
Daily Summit 2022, Selasa (11/10/2022).
Komitmen Indonesia menjalankan
hilirisasi di sektor pertambangan memang tak main-main, khususnya nikel. Dengan
sumber daya nikel yang terbesar di dunia, Indonesia bisa menjadi 'raja baterai
listrik di dunia' tatkala nikel bisa dimanfaatkan dari hulu sampai ke hilir.
Sebab, masa depan nikel di pasar global
cukup cerah seiring hadirnya industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV)
yang terus tumbuh. Maklum, nikel merupakan bahan baku utama dalam pembuatan
baterai kendaraan listrik.
Mengacu data Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia diperkirakan memiliki cadangan nikel
hingga 24 juta metrik ton (MT). Di tahun 2021, produksi olahan nikel Indonesia
mencapai 2,47 juta ton naik 2,17% dibanding 2020 yang sebesar 2,41 juta ton.
"Sekali lagi Indonesia akan menjadi
produsen utama produk-produk barang yang berbasis nikel seperti lithium,
baterai listrik. Ini kesempatan emas untuk membangun ekonomi hijau ke depan,"
terang Jokowi dalam Seremoni Implementasi Rencana Tahap Kedua Industri Baterai
Listrik Terintegrasi di KIT Batang, Rabu (8/6/2022).
Upaya Indonesia menjadi 'raja baterai
listrik di dunia' sejatinya sudah di depan mata. Saat ini Indonesia sudah memiliki
holding baterai kendaraan listrik bernama Indonesia Battery Corporation alias
IBC, yang terbentuk pada Maret 2021.
Holding baterai merupakan induk usaha
gabungan dari empat perusahaan pelat merah. Diantaranya: Holding BUMN
Pertambangan MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero), dan
PT PLN (Persero).
Dalam induk usaha gabungan tersebut,
MIND ID bersama Antam bertindak sebagai penyedia bijih nikel untuk bahan baku
utama pembuatan baterai. Pertamina menjalankan bisnis manufaktur produk hilir
meliputi pembuatan battery cell dan lainnya.
Sementara, PLN akan menyediakan
infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan lain
sebagainya. Porsi kepemilikan saham masing-masing BUMN tersebut adalah sebesar
25%.
Menggaet Investor
Garap Baterai Listrik
Tak tanggung-tanggung, IBC bahkan bakal
mengantongi investasi senilai US$ 15 miliar atau sekitar Rp 225 triliun (kurs
Rp 15.000) dari hasil kerja sama dengan dua raksasa baterai dunia. Keduanya
adalah PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) asal China dan LG
Energy Solution (LGES) asal Korea Selatan.
Direktur Utama Antam Nico Kanter
menjelaskan pihaknya telah memulai kerja sama pengembangan industri baterai EV
dengan CBL dan LGES. Dalam kerja sama itu, perusahaan bakal menyediakan sumber
daya nikel hingga pembangunan proyek smelter, baik berteknologi Rotary Kiln
Electric Furnace (RKEF) maupun High Pressure Acid Leaching (HPAL).
"Sedang prekursor, katoda, battery
cell sampai ke battery recycling ini juga masih dalam part negosiasi. Kami
sangat berharap bahwa kita tandatangani definitive agreement di akhir tahun
ini," ujar Nico dalam Webinar Hilirisasi Minerba: Industrialisasi Mineral
Menuju Indonesia Emas, belum lama ini.
Nico memaparkan perusahaan telah
menandatangani framework agreement antara konsorsium LGES dengan Antam dan IBC
pada 14 April 2022. Kerja sama itu berisi komitmen pembangunan industri EV
battery di Indonesia secara end to end.
Membangun Pabrik
Sementara, IBC membeberkan pihaknya
tengah membangun pabrik baterai kendaraan listrik di wilayah Karawang, Jawa
Barat. Pabrik itu hasil kerja sama dengan konsorsium asal Korea Selatan, LG
Energy Solution dan Hyundai Motor Group. Pabrik digadang-gadang akan menjadi
yang terbesar di Asia Tenggara.
Direktur IBC Toto Nugroho mengatakan
pabrik tersebut akan memulai produksi pertama pada 2024 mendatang. Hasil
produksi baterai dari Karawang rencananya akan diserap oleh Hyundai. "Di
2024 pabrik LG yang diproduksi dengan Hyundai dan nanti kerja sama dengan kami
ini pabrik EV terbesar di Asean," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat
bersama Komisi VII, Senin (19/9/2022).
Toto menargetkan kapasitas produksi
baterai di pabrik tersebut dapat mencapai 10 Giga Watt hour (GWh) pada 2024.
Meski demikian, periode yang paling penting bagi RI yakni antara 2025-2026, di
mana pada tahun tersebut Indonesia bakal memproduksi baterai secara massal
dengan bahan baku nikel dari dalam negeri.
"Salah satu manfaat dari proses ini
adalah transisi energi. Bisa dilihat di sini kalau kita konversi hampir target
30% di 2030 bahwa kita secara potensi bisa menurunkan hampir 30 juta barel per
tahun dari impor. Dengan harga sekarang hampir mendekati angka US$ 5-6 miliar
per tahun," katanya.
Namun, Toto menyadari cita-cita untuk
menjadi 'raja' baterai EV tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Mengingat, Indonesia harus mengimpor beberapa bahan baku untuk pembuatan
baterai, salah satunya seperti lithium.
Menurut Toto sekalipun RI kaya raya akan
cadangan nikel yang melimpah, namun hal itu belum cukup menjadikan RI sebagai
"raja" baterai dunia. Pasalnya, terdapat dua komponen bahan baku
baterai yang tidak dimiliki RI, diantaranya seperti material lithium dan
graphite.
"Di Indonesia kita kaya dengan
nikel, namun ada dua komponen utama yang harus kita impor. Pertama adalah
lithium, kedua adalah baterai untuk anoda-nya, bahannya itu kayak graphite.
Katoda itu terdiri dari 80% oleh nikel, 10% lithium, 10% dari kobalt atau
mangan," ungkap Toto.
IBC, kata Toto juga tengah mengupayakan
pengembangan teknologi pembuatan baterai listrik tanpa komponen lithium. Dengan
begitu, Indonesia tidak lagi bergantung pada bahan baku impor.
"Ini riset kita lakukan bagaimana
kita tidak tergantung lithium-nya atau kobalt ataupun dari graphite-nya,"
kata dia.
Membidik Tambang
Luar Negeri
Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID
Dany Amrul Ichdan menjelaskan komponen bahan baku baterai kendaraan listrik 80%
terdiri dari bijih nikel. Namun demikian, 20% bahan baku untuk pembuatan
baterai masih bergantung pada negara lain, seperti China, Chile, dan Australia.
Oleh sebab itu, diperlukan peta jalan
kemandirian dalam industri baterai terintegrasi. Sehingga ketergantungan
terhadap barang impor bisa dikurangi meskipun jumlahnya hanya 20%.
"Apakah kita melakukan aksi
korporasi untuk mengambil tambang lithium di luar negeri ataukah seperti apa,
IBC sedang membuat peta jalan, paling tidak ketergantungan impor ini
dikurangi," kata dia.
Ia merinci bahan baku seperti lithium
yang selama ini diimpor misalnya, kebutuhannya mencapai 70 ribu ton per tahun.
Sedangkan kebutuhan bahan baku baterai berupa graphite mencapai 44 ribu ton per
tahun.
Sementara, bahan baku seperti mangan
sulfat dan kobalt, kebutuhan masing-masing mencapai 12 ribu ton per tahun.
"Dan ini masih impor. Jadi 20% selain nikel kita masih impor," tutup
Dany.

Komentar
Posting Komentar